Kampung Adat Ciptagelar

By August 30, 2020Budaya

Kampung Adat Ciptagelar

Sukabumi – Kampung Adat Ciptagelar termasuk ke dalam wilayah Kasepuhan, atau kelompok masyarakat atau komunitas yang hidup serta bertingkah laku sesuai dengan aturan adat istiadat lama.Secara etimologi, Kasepuhan yang berasal dari kata Sepuh, bermakna tua, atau dihormati dan dituakan.Kampung ini berada di Desa Sirnarosa, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.Wilayah adat ini terletak di lereng bukit bagian selatan Taman Nasional Gunung Halimun dan termasuk ke dalam Kesatuan Adat Banten Kidul.

Asal-usul penduduk Kampung Adat Ciptagelar sering dihubungkan dengan keturunan Prabu Siliwangi dan merupakan salah satu tempat pelarian keturunan dan pengikut Kerajaan Sunda Pajajaran.Konon, banyak pengikut dan keturunan Prabu Siliwangi yang terpencar di beberapa wilayah di Jawa Barat, diantaranya, wilayah pedalaman Bogor, Sukabumi dan Banten. Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar merupakan masyarakat yang masih melestarikancara hidup masyarakat Sunda kuno.

Bertani dan berladang merupakan dua bidang pokok masyarakat Kampung Adat Ciptagelar dalam memenuhi kehidupan mereka.Sementara bidang lainnya adalah beternak dan berkebun. Bila sawah dalam masa Boyor, yakni yang berarti cukup banyak airnya, biasanya difungsikan juga untuk memelihara ikan, dan apabila musim kering lahan pertanian akan ditanami jenis tanaman yang memiliki waktu panen pendek. Pekerjaan lain yang menjadi penunjang adalah membuat aneka kerajinan anyaman, memproduksi gula, dan lain sebagainya. Selesai masa panen, setiap keluarga biasanya akan menyisihkan dua ikat padi untuk diserahkan kepada Sesepuh Girang sebagai Tatali panen, dan padi itu biasanya akan disimpan di lumbung komunal atau Leuit, yang juga dapat berfungsi sebagai cadangan jika datang musim paceklik. Salah satu lumbung komunal di kampung ini adalah Leuit Si Jimat, yang difungsikan untuk menyimpan Indung Pare atau bibit padi. Terdapat pula istilah Maro, yaitu sistem bagi dua antara pemilik dan penggarap yang berlaku dalam pertanian dan juga peternakan.Selain itu ada juga istilah Bawon, yakni sistem perbantuan di saat panen. Misalnya jika seseorang membantu memanen padi sebanyak lima ikat, maka akan mendapat satu ikat. Hal yang sama juga berlaku ketika menumbuk padi menjadi beras. Adapun peraturan adat di kampung ini melarang untuk menjual padi atau beras beserta hasil olahannya.Hal ini merupakan bentuk

penghormatan mereka terhadap padi yang merupakan kebiasaan dari masyarakat Sunda lama.Namun pada masa kini, masyarakat telah diizinkan untuk menjual padi apabila mengalami cadangan berlebih. Menjual padi dan beras pada saat sekarang juga dilakukan terutama untuk membiayai pembangunan berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan, contohnya pembangunan saluran air, jalan, jembatan dan lain sebagainya.

Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar juga memiliki aturan yang mereka tetapkan terhadap wilayah-wilayah hutan yang berada di wilayah mereka.Hutan tua atau yang disebut dengan Leuweung Kolot merupakan hutan dengan kerapatan tinggi dan banyaknya flora dan fauna yang jelas tidak boleh dieksploitasi. Kemudian Leuweung Titipan, merupakan wilayah hutan yang harus dijaga dan tidak boleh digunakan tanpa mendapat izin dari Sesepuh Girang. Yang terakhir adalah Leuweung Sampalan, yakni wilayah hutan yang boleh dimanfaatkan untuk keperluan menggarap lading, perkebunan, menggembalakan ternak, mencari kayu bakar, dll.Salah satu yang menarik dari kampung ini adalah sistem pemerintahan adat.Abah Anom berperan sebagai kepala adat yang memiliki peranan dan pengaruh penting.Secara struktural, Kasepuhan adat dipimpin oleh Kolot Girang yang didampingi oleh Sesepuh Induk.Selama ini cukup jarang ada konflik karena masyarakatnya memegang teguh aturan adat mereka.Adapun dalam pembangunan fasilitas umum, warga masih melakukan sistem Gotong-Royong.Selain itu di Kampung Adat Ciptagelar juga terdapat beberapa perangkat adat lain yang menopang jalannya kehidupan masyarakat kampung ini adalah Mabeurang atau dukun bayi, Bengkong atau dukun sunat, Dukun Tani, Dukun Jiwa, Paninggaran atau juru jaga lahan pertanian, Juru Doa, Juru Pantun, Juru Sawer, dan beberapa perangkat lainnya untuk menjalankan tugas keamanan. Selain itu ada juga pengawal atau ajudan yang menemani Kolot Lembur jika bepergian dinas, juga ada seorang Pujangga yang bertugas memainkan Kecapi Buhun sembari berpantun.

Sistem religi masyarakat Kampung Adat Ciptagelar adalah kepercayaan Sunda kuno yakni yang bersinkretis antara agama Hindhu dan Islam.Hal ini terutama terlihat pada saat upacara-upacara adat yang mereka selenggarakan. Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar memiliki beberapa rangkaian ritual yang lebih banyak berkaitan dengan proses pertanian, yakni daur hidup padi dari mulia menanam hingga panen dalam alam kepercayaan masyarakat, di antaranya adalah:

  • Ngaseuk, yakni menanam padi yang didahului dengan upacara memohon keselamatan dan kemanandan berziarah ke pemakaman leluhur;
  • Sapang Jadian Pare, satu minggu setelah penanaman padi diadakan ritual untuk meminta restu kepada sang ibu yang mana representasi dari bumi, untuk ditanami. Diiringi dengan memohon restu leluhur dan Sang Pencipta agar padi tumbuh dengan baik;
  • Pare Nyiram, Mapag Pare Beukah, saat padi keluar bunga, mereka melakukan ritual yang bertujuan untuk memohon padi agar tumbuh dengan baik dan terhindar dari hama;
  • Sawenan, ritual yang diselenggarakan setelah bulir padi mulai keluar;
  • Mipit Pare, ritual yang digelar saat akan memotong padi, tujuannya untuk meminta izin kepada leluhur dan juga agar diberikan hasil panen yang melimpah;
  • Nganyaran atau Ngabukti, ritual saat padi ditumbuk dan dimasak untuk pertama kali;
  • Ponggokan, tradisi berkumpul para Sesepuh untuk membahas masalah kependudukan berdasarkan pajak masing-masing orang. Tradisi berkumpul ini biasanya dilakukan seminggu sebelum ritual Seren Taun dan tentang penyelenggaraan Seren Taun akan dibahas pada kesempatan ini;
  • Seren Taun, merupakan puncak acara dalam daur hidup padi. Acara ini digelar setiap tahunnya sebagai bagian dari tradisi menghormati para leluhur dan Dewi Sang Hyang Pohaci atau Dewi Sri. Acara ini digelar dengan berbagai bentuk kesenian. Yang utama adalah padi dibawa dengan diarak untuk kemudian disimpan di lumbung-lumbung, salah satunya di lumbung komunal.

 

Selain upacara yang terkait dengan pertanian, ada juga upacara lain yang dilakukan oleh masyarakat kampung adat ini, di antaranya adalah:

  • Selamatan, dilaksanakan pada tanggal 14 bulan purnama;
  • Nyawen, dilaksanakan pada bulan sapar dengan ritual pemasangan jimat kampung;
  • Beberes, upacara untuk menghindarkan masalah karena pelanggaran;
  • Sedekah Maulud dan Rewah, ritual saling mengirim makanan.

Terdapat tiga jalur utama menuju Kampung Adat Ciptagelar.Jalur pertama merupakan jalur dengan visualisasi paling indah, yakni jalur sepanjang 28 km dari Pelabuhan Ratu menuju Sukawayana.Jalur yang membelah hutan sepanjang 9 km ini dibangun hanya dalam waktu tiga hari.Tiap warga mendapat jatah pembangunan 1 m jalan dengan satu cangkul. Jalur kedua menuju kampung adat ini adalah melewati Kampung Sirnaresmi sejauh 12,6 km. Yang terakhir adalah jalur ketiga, yakni jalur terpanjang namun kondisi jalannya sudah beraspal, melewati Cicadas-Cikadu-Gunung Bongkok di wilayah Kabupaten Lebak.

admin

Author admin

More posts by admin

Leave a Reply