Babaritan Kranggan satu satunya yang ada di Kota Bekasi

By September 21, 2021Budaya

KOTA BEKASI – Waktu terus berlalu, berjalan dari generasi ke generasi. Pandemi tidak menjadi alasan untuk melupakan tradisi, walau tak semeriah tahun sebelumnya tradisi tetap terlaksana agar terjaga.

Daerah Kranggan salah satunya, Kampung yang sudah dikenal dengan Kampung Adat ini mempunyai tradisi yang dijaga secara turun-temurun. Terbukti dengan diadakannya acara Babarit Kranggan pada tanggal 13 Agustus 2021 lalu. Adat istiadat babarit di Kranggan banyak bulannya diantaranya, bulan sura, bulan mulud, dan bulan hapit. Acara inipun diadakan tiap tahun dan tiap windu.

Babarit Kranggan dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi para tokoh masyarakat dan masyarakat kampung Kranggan. Di Kranggan mempunyai adat budaya yang luar biasa, dengan mempertahankan adat istiadat agar tetap terjaga.

“Di Kota Bekasi, yang masih tertata yang masih rapih dan yang masih berjalan adat budaya nya adalah Kranggan. Sehingga pemerintah daerah menetapkan Kranggan sebagai kampung adat”- Ucap Bapak Anim Imamuddin, SE,MM selaku Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi

Tahun ini disebut tahun alip, yang bertepatan dengan tahun baru Islam 1445H. Yang mana biasanya Babarit menggunakan kerbau hitam, namun di tahun alip menggunakan kerbau bule. “Tujuan daripada mengadakan babarit ini agar kita selamat dunia akhirat, apalagi dengan keadaan covid-19 ini mudah-mudahan dengan diadakan nya selametan seperti ini covid-19 akan berakhir di negara tercinta ini” Jelas pak Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi.

Dalam tradisi babarit disediakan juga Ketupat Segantang, guna persembahan untuk tanaman dan binatang yang pernah dimakan. Kerbau bule untuk persembahan kepada ibu bumi, para leluhur,maha kuasa, sebagai bentuk dari rasa syukur dan harapan agar tidak terjadi bencana alam

Bararit Kranggan bertujuan sebagai penghormatan kepada leluhur untuk mengungkapkan rasa syukur kepada sang pencipta, karena masyarakat telah diberikan kesehatan, diberikan sandang, pangan, papan, tidak ada bencana, tidak ada bala. Acara ini rutin diadakan di Kranggan. Masyarakat menuangkan rasa syukurnya terhadap alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

 

Harapan diadakannya Babart ini adalah tetap terjaga nya adat istiadat yang sudah rutin dilaksanakan seperti pepatah ‘Nutur galur mapay tapak’ yang berarti mengikuti jejak orang tua terlebih dahulu. Juga seperti semboyan yang sering kita dengarpun Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, yang biasa disingkat ‘Jasmerah’ .

“Harapannya yang pertama agar acara adat istiadat ini tetep dijaga dan dilestarikan, juga menjadi peninggalan sejarah pada generasi muda bahwa sejarah ini sangat penting” Pungkas Bapak Anim Imamuddin, SE,MM selaku Wakil Ketua DPRD Kota Bekasi.

(Windy Mahesa)

admin

Author admin

More posts by admin

Leave a Reply