All Posts By

admin

Intip Keunikan Imah Gede, Dapur Terbesar di Kasepuhan Ciptagelar

By | Berita | No Comments

Intip Keunikan Imah Gede, Dapur Terbesar di Kasepuhan Ciptagelar

Sukabumi – Imah gede adalah sebuah dapur besar yang ada di kampung Kasepuhan Ciptagelar. Dapur ini merupakan tempat berkumpulnya warga saat mempersiapkan makanan untuk acara ritual adat padi. Beruntungnya, kelompok mahasiswa IPB jurusan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) yang sedang meneliti kearifan lokal kampung Kasepuhan Ciptagelar bisa merasakan dan menikmati keunikan Imah Gede ini. Pada saat melaksanakan kunjungan, Kasepuhan Ciptagelar sedang mengadakan acara ritual padi, dari situlah kelompok mahasiswa IPB yang tergabung sebagai panitia The 6th Connection IPB University dapat mengetahui beberapa hal menarik yang menjadi ciri khas imah gede antara lain, pada saat mempersiapkan ritual padi, dapur ini dikenal sebagai dapur yang tidak pernah padam tungku masaknya selama 24 jam. Sebab selalu ada tamu yang mengunjungi imah gede, baik itu dari kasepuhan di tempat lain maupun dari pengunjung yang sengaja berkunjung untuk melihat ritual adat padi. Biasanya di dapur ini terdapat pembagian shift yang dibagi kedalam dua shift. Shift pertama dari terbit matahari hingga terbenamnya matahari diisi oleh ibu- ibu, sedangkan shift ke – dua dari terbenamnya matahari hingga terbit matahari diisi oleh bapa-bapa.

Tak hanya keunikan tungku masak yang tidak pernah padam, ternyata ada keunikan lain yang dilakukan di dapur ini loh, yaitu berupa pembagian kerja untuk mengolah makanan. Nah pembagian kerja yang terdapat di dapur ini ternyata diwarisi secara turun temurun. Ketika ada pembagian kerja untuk memasak, ketua adat tidak perlu repot-repot untuk membagi tugas, sebab masyarakat telah mengetahui tugasnya masing masing. Misalnya ketika nenek moyang mereka biasa memasak nasi maka keturunannya akan melanjutkan tugas tersebut, begitupun pada jenis masakan lainnya sehingga ini menjadi keunikan sendiri masyarakat Kasepuhan Ciptagelar pada saat mempersiapkan ritual adat padi. Ketika sedang diadakan ritual padi masyarakat kasepuhan memasak dengan jumlah yang sangat besar, dana untuk bahan makanan yang disediakan pun terbilang fantastis, yaitu sekitar angka 100 jutaan. Wah ternyata acara ritual padi saja menghabiskan dana sebesar itu ya, pasti kalian bertanya – tanya, dana yang didapatkan dari mana? Nah dana yang didapatkan itu berasal dari iuran warga yang dilakukan setiap minggu sebesar Rp5000 untuk acara ini,.Makanya tidak heran jika acara ini mengundang keunikan tersendiri bagi para pengunjung.

Nah biasanya jenis masakan yang dimasak sangat beragam biasanya masakan yang dimasak itu lebih dari 30 macam olahan masakan. Seperti yang dikatakan salah satu masyarakat di sana bahwa banyak olahan masakan yang dibuat pada saat mempersiapkan acara ritual padi. Ibu – ibu akan membuat makanan dan kue yang bervariasi baik itu berupa lauk pauk, makan pembuka, hingga makanan penutup. Makanan yang dibuat tidak hanya makanan pokok, melainkan ada makanan ritual yang dibuat yaitu berupa tumpeng nasi yang di dalamnya terdapat harta karun atau berbagai masakan yang bahan utamanya terbuat dari daging rusa.

Wahh ternyata banyak sekali keunikan yang di dapatkan dari satu kearifan lokal yang ada di Kampung Kasepuhan Ciptagelar ini, itulah beberapa kearifan lokal yang ada di Kampung  Adat Kasepuhan Ciptagelar .

Mahasiswa HIMASIERA IPB mengadakan lomba fotografi dan vlog Global Synergy of Local Wisdom in New Normal Era

By | Berita | No Comments

Mahasiswa HIMASIERA IPB mengadakan lomba fotografi dan vlog Global Synergy of Local Wisdom in New Normal Era

The 6th Connection merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Peminat Ilmu-Ilmu Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (HIMASIERA) IPB. The 6th Connection mempresentasikan Himasiera dan Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat lebih dalam melalui rangkaian acara yang mengombinasikan elemen komunikasi dan pengembangan masyarakat. Pada tahun ini, The 6th Connection mengadakan perlombaan fotografi dan vlog dengan tema Global Synergy of Local Wisdom in New Normal Era. Menyesuaikan keadaan dunia yang berada di tengah-tengah pandemi Covid-19, The 6th Connection mengusung rangkaian acara yang merepresentasikan suatu tatanan atau perilaku hidup baru guna mengantisipasi penyebaran virus yang kemudian dikaitkan dengan budaya masyarakat atau kearifan lokal, yang mana hal tersebut dianggap sebagai strategi kehidupan baru yang berbentuk perilaku masyarakat dalam mengatasi permasalahannya.

The 6th Connection terdiri atas rangkaian acara yang dikemas secara komunikatif sebagai ajang untuk memicu sinergitas antara stakeholder dalam implikasi pemberdayaan masyarakat di era baru selama pandemi Covid-19. Terdapat 3 rangkaian besar dalam pagelaran The 6th Connection 2020 yaitu :

  1. Reswara Competition merupakan kegiatan perlombaan Fotografi dan Video Blog (VLOG) dengan tema sinergitas atau keterkaitan antara budaya masyarakat setempat dengan penerapan “New Normal Era” selama pandemi Covid-19. Untuk perlombaan Video Blog (VLOG) sendiri mengangkat sub tema lingkungan, sosial, ekonomi, dan kesehatan lingkungan sekitar selama New Normal Era yang dikaitkan dengan kebudayaan setempat. The 6th Connection menawarkan total hadiah sebesar 10 juta rupiah bagi 4 pemenang dalam setiap kategori perlombaan.
  2. 3D Virtual Exhibition merupakan kegiatan pameran yang akan menampilkan hasil karya dari seluruh pastisipan. Pameran ini akan ditampilkan secara 3D dan virtual melalui website resmi The 6th Teknologi 3D akan membawa kita seperti berjalan di ruangan yang di dalamnya berisi karya para peserta, hasil eksplorasi, dan pengetahuan kebudayaan selama acara berlangsung.
  3. LIVE Streaming berupa kegiatan turun lapang di desa adat yaitu Desa Adat Ciptagelar, Jawa Barat, yang akan dilakukan oleh 8 panitia. Dalam kegiatan ini, kita akan belajar dan mengenal kearifan lokal di desa tersebut langsung bersama masyarakat adat dan ditampilkan secara LIVE melalui Youtube yang akan tersambung dengan website dan Instagram kami pada 10 Oktober 2020 mendatang pukul 13.00 WIB.

Untuk mengetahui seputar lomba dan rangkaian lainnya, follow instagram kami di @connection_ipb atau website connection.skpm.ipb.ac.id

Jawa Barat Targetkan Juara Umum Diajang API 2020

By | Berita | No Comments

Jawa Barat Targetkan Juara Umum Diajang API 2020

KARAWANG, Kamis (16/7/2020)
Kini giliran Puncak sempur menjadi jagoan Karawang dalam Anugerah Pesona Indonesia 2020 (API 2020), setelah tahun sebelumnya wisata kampung boneka di Cikampek masuk Nominasi API dikategori Destinasi Wisata Belanja Terpopuler.

Anugerah Pesona Indonesia ini merupakan ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, seperti diterangkan Dadan Hendrayana Kepala Bidang Promosi Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kabid Promosi Pariwisata Disparbud) Kabupaten Karawang bahwa Puncak Sempur tahun ini merupakan satu-satunya destinasi wisata yang masuk nominasi API 2020 dikategori Destinasi Wisata Dataran Tinggi Terpopuler.

“Alhamdulillah tahun ini ada puncak sempur yang masuk nominasi API 2020, setalah sebelumnya Kampung Boneka, kami sempat mengajukan beberapa destinasi ke kementrian, tapi yang muncul dan masuk nominasi adalah puncak sempur dikategori Destinasi Wisata Dataran Tinggi Terpopuler,” ujar Kabid Promosi Wisata Disparbud

Dadan juga menjelaskan saat ini Jawa Barat termasuk yang paling banyak masuk nominasi API, “Jawa Barat sendiri sekarang banyak yang masuk nominasi dari beberapa Kategori, bahkan Disparbud Provinsi Jabar saat ini menargetkan juara umum,” tambahnya.

“Anime masyarakat dibandingkan tahun lalu sekarang lebih ramai seperti saya pernah lihat dibeberapa akun influencer yang memposting nominasi API tersebut, padahal kami belum posting karena akan mulai voting nanti di tanggal 1 agustus, rencana beberapa hari sebelum voting baru kami posting,” pungkas Dadan.

Dadan Hendrayana Kabid Promosi Pariwisata juga berharap saat ini Puncak sempur dapat menjadi juara satu dalam Kategori destinasi wisata Dataran Tinggi Terpopuler.

“Tentunya ini karena dukungan dari komponen masyarakat, semoga kedepan banyak destinasi Wisata dikarawang masuk nominasi,” tutupnya.

Gelaran Ngaruat Masih Lestari di Karawang

By | Budaya | No Comments

KARAWANG, Senin (31/8/2020)
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lodaya akan menggelar acara Ngaruat Getih Karawang, acara yang rutin digelar setiap tahun tersebut akan dilaksanakan 19 September mendatang dan berlangsung di Goa Dayeuh Desa Tamansari Kecamatan Pangkalan, hal itu dikatakan Nace Permana, SE, M.I.Kom ketika disowani Koran Gratis dikantornya pada Senin siang 31/8/2020.

Dijelaskan Nace Permana atau yang akrab disapa Kang Nace, kegiatan ngaruat kali ini digelar di Goa Dayeuh Kecamatan Pangkalan Karawang atas permintaan masyarakat setempat, “tema kegiatan kali ini adalah ‘hirup hurip bagja lodaya tandang mirosea warisan karuhun’ yang kurang lebih artinya hidup sejahtera dan memelihara warisan leluhur,” jelas Kang Nace.

Kang Nace juga menjelaskan saat ini acaranya digelar secara mandiri, “kami dari tahun ketahun rutin menggelar ngaruat ini, kebetulan di bulan September juga termasuk dalam rangkaian acara hari jadi Karawang, kami saat ini masih mandiri menggelar acara ini, tapi kedepan kami juga terbuka jika pemerintah ingin bersama-sama untuk menggelar acara ini, tujuan intinya kan sama kita tetap ngamumule budaya Karawang,” ujarnya.

Secara terpisah, Iman Rohendi Purwa Atmaja Dalang Senior Karawang juga menjelaskan makna dari ngaruat “Ngaruat sebagai bentuk tradisi yang mengarah ke spiritual, ngaruat secara etimologis berarti menguatkan atau bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan. Awal berkembang kebiasaan ngaruat ini dari ritual hindu, seiring berjalannya penyebarannya islam di Nusantara oleh Wali Songo, kegiatan ngaruat masih dilestarikan sebagai bagian dari kebudayaan namun dirubah sedikit ditambahkan dengan tahlilan atau tasyakuran secara islam,” kata Dalang Iman.

Masih membahas ngaruat, Waya Karmila Kepala Seksi Kesenian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karawang juga menjelaskan bahwa Ngaruat sebagai bentuk tradisi atau budaya yang harus dilestarikan, “kegiatan ngaruat ini tentunya hal yang positif dan sebagai upaya untuk memperkenalkan budaya ngaruat ini kepada generasi muda, seperti pagelaran wayang golek, ngarak dongdang dan hal lainnya, ngaruat juga merupakan budaya lokal yang harus dilestarikan dan kami sangat mengapresiasi pihak yang masih melestarikan kegiatan ngaruat ini,” tandas Waya Karmila.
(Irvan Maulana)

Geopark Ciletuh yang memukau

By | Destinasi | No Comments

Menurut penelitian para ahli geologi, kawasan Ciletuh termasuk ke dalam salah satu kawasan atau kompleks batuan tertua di Pulau Jawa. Bentang alam yang unik, menyerupai amphitheater raksasa yang menghadap ke Samudera Hindia menjadikan kawasan taman bumi atau yang biasa dikenal dengan sebutan Geopark ini sebagai salah satu daya tarik berbasis alam yang wajib diperhitungkan. Kawasan yang terdiri dari berbagai macam bentukan alam seperti pegunungan, sawah, sungai, air terjun, batuan dan laut ini, konon wilayah ini dulunya adalah lautan, sehingga menjadi salah satu keistimewaan utamanya.

PESONA BATU TUA

Nama Ciletuh berasal dari nama sungai yang membentang sejauh 50 km dari Desa Tamanjaya hingga Teluk Ciletuh, Pantai Palangpang, Desa Ciwaru. Selain Desa Ciwaru dan Desa Tamanjaya, Geopark Ciletuh juga meliputi tiga desa lainnya, yakni Desa Mekarmukti, Desa Ciemas, dan Desa Mandrajaya. Kawasan Geopark Ciletuh, Sukabumi Selatan, menyajikan bentang alam mempesona, menarik dan istimewa. Kawasan yang terletak di tepi Samudera Hindia ini ditempati oleh batuan Bancuh atau Melange yang patut dijadikan cagar geologi. Kawasan ini termasuk ke dalam salah satu batuan tertua di Pulau Jawa yang tersingkap ke permukaan, merupakan hasil interaksi dua lempeng tektonik yang diduga terjadi pada masa Kapur Akhir sampai Tersier Awal.Kawasan Geopark Ciletuh dapa dikelompokkan menjadi tiga blok atau segmen untuk objek pengamatn. Masing-masing blok mempunyai karakteristik yang khas, unik serta kelangkaan geologi dan biologi. Ketiga blok itu adalah Blok Gunung Badak-Teluk Ciletuh, Blok Citisuk-Cikepuh, Blok Citireum-Pangumbahan hingga ke Kawasan Ujung Genteng.

WISATA GEOLOGI

Kondisi visual di geopark tersebut bak surga dunia yang menawarkan pemandangan hamparan batu karang laut serta 10 air terjun pegunungan.Geopark Ciletuh berlatar belakang pegunungan dan laut.Untuk menikmati Geopark Ciletuh dikemas dalam paket wisata, di mana setiap orangnya dikenai biaya Rp. 350 ribu. Dengan biaya tersebut, pengunjung akan diajak berkeliling menggunakan mobil berpenggerak empat roda menyusuri hamparan batuan tua hasil proses sedimentasi jutaan tahun yang lalu. Pengunjung juga akan diajak berkeliling ke kawasan pedesaan, termasuk menginap di rumah penduduk. Wisatawan juga akan disuguhi masakan tradisional khas Sunda serta juga akan dipandu untuk melihat dari dekat proses pembuatan gula kelapa, termasuk makanan khas seperti Kayamangdan Cimplung. Dalam paket tersebut wisatawan juga dipandu untuk menyaksikan keindahan 10 air terjun di antaranya adalah Air Terjun Puncak Manik, Awang, Cimarinjung, Cikanteh, Codong, Codong Tengah dan Ngelay. Setelah air terjun kemudian wisatawan akan diantar ke dataran tinggi sambil menikmati keindahan dan panorama alam. Belum cukup, setelah itu wisatawan juga diajak untuk menyusuri gua-gua di samping laut pantai selatan, termasuk air terjun yang jatuh ke laut.

Semua keindahan dan kemegahan yang terdapat di Geopark Ciletuh, semuanya asli secara lahiriah disuguhkan dari alam dan keaslian budaya lokal.Adapun keindahan dan kemegahan Geopark Ciletuh menjadi salah satu obyek wajib kunjung di Provinsi Jawa Barat.

Kampung Adat Ciptagelar

By | Budaya | No Comments

Kampung Adat Ciptagelar

Sukabumi – Kampung Adat Ciptagelar termasuk ke dalam wilayah Kasepuhan, atau kelompok masyarakat atau komunitas yang hidup serta bertingkah laku sesuai dengan aturan adat istiadat lama.Secara etimologi, Kasepuhan yang berasal dari kata Sepuh, bermakna tua, atau dihormati dan dituakan.Kampung ini berada di Desa Sirnarosa, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.Wilayah adat ini terletak di lereng bukit bagian selatan Taman Nasional Gunung Halimun dan termasuk ke dalam Kesatuan Adat Banten Kidul.

Asal-usul penduduk Kampung Adat Ciptagelar sering dihubungkan dengan keturunan Prabu Siliwangi dan merupakan salah satu tempat pelarian keturunan dan pengikut Kerajaan Sunda Pajajaran.Konon, banyak pengikut dan keturunan Prabu Siliwangi yang terpencar di beberapa wilayah di Jawa Barat, diantaranya, wilayah pedalaman Bogor, Sukabumi dan Banten. Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar merupakan masyarakat yang masih melestarikancara hidup masyarakat Sunda kuno.

Bertani dan berladang merupakan dua bidang pokok masyarakat Kampung Adat Ciptagelar dalam memenuhi kehidupan mereka.Sementara bidang lainnya adalah beternak dan berkebun. Bila sawah dalam masa Boyor, yakni yang berarti cukup banyak airnya, biasanya difungsikan juga untuk memelihara ikan, dan apabila musim kering lahan pertanian akan ditanami jenis tanaman yang memiliki waktu panen pendek. Pekerjaan lain yang menjadi penunjang adalah membuat aneka kerajinan anyaman, memproduksi gula, dan lain sebagainya. Selesai masa panen, setiap keluarga biasanya akan menyisihkan dua ikat padi untuk diserahkan kepada Sesepuh Girang sebagai Tatali panen, dan padi itu biasanya akan disimpan di lumbung komunal atau Leuit, yang juga dapat berfungsi sebagai cadangan jika datang musim paceklik. Salah satu lumbung komunal di kampung ini adalah Leuit Si Jimat, yang difungsikan untuk menyimpan Indung Pare atau bibit padi. Terdapat pula istilah Maro, yaitu sistem bagi dua antara pemilik dan penggarap yang berlaku dalam pertanian dan juga peternakan.Selain itu ada juga istilah Bawon, yakni sistem perbantuan di saat panen. Misalnya jika seseorang membantu memanen padi sebanyak lima ikat, maka akan mendapat satu ikat. Hal yang sama juga berlaku ketika menumbuk padi menjadi beras. Adapun peraturan adat di kampung ini melarang untuk menjual padi atau beras beserta hasil olahannya.Hal ini merupakan bentuk

penghormatan mereka terhadap padi yang merupakan kebiasaan dari masyarakat Sunda lama.Namun pada masa kini, masyarakat telah diizinkan untuk menjual padi apabila mengalami cadangan berlebih. Menjual padi dan beras pada saat sekarang juga dilakukan terutama untuk membiayai pembangunan berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan, contohnya pembangunan saluran air, jalan, jembatan dan lain sebagainya.

Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar juga memiliki aturan yang mereka tetapkan terhadap wilayah-wilayah hutan yang berada di wilayah mereka.Hutan tua atau yang disebut dengan Leuweung Kolot merupakan hutan dengan kerapatan tinggi dan banyaknya flora dan fauna yang jelas tidak boleh dieksploitasi. Kemudian Leuweung Titipan, merupakan wilayah hutan yang harus dijaga dan tidak boleh digunakan tanpa mendapat izin dari Sesepuh Girang. Yang terakhir adalah Leuweung Sampalan, yakni wilayah hutan yang boleh dimanfaatkan untuk keperluan menggarap lading, perkebunan, menggembalakan ternak, mencari kayu bakar, dll.Salah satu yang menarik dari kampung ini adalah sistem pemerintahan adat.Abah Anom berperan sebagai kepala adat yang memiliki peranan dan pengaruh penting.Secara struktural, Kasepuhan adat dipimpin oleh Kolot Girang yang didampingi oleh Sesepuh Induk.Selama ini cukup jarang ada konflik karena masyarakatnya memegang teguh aturan adat mereka.Adapun dalam pembangunan fasilitas umum, warga masih melakukan sistem Gotong-Royong.Selain itu di Kampung Adat Ciptagelar juga terdapat beberapa perangkat adat lain yang menopang jalannya kehidupan masyarakat kampung ini adalah Mabeurang atau dukun bayi, Bengkong atau dukun sunat, Dukun Tani, Dukun Jiwa, Paninggaran atau juru jaga lahan pertanian, Juru Doa, Juru Pantun, Juru Sawer, dan beberapa perangkat lainnya untuk menjalankan tugas keamanan. Selain itu ada juga pengawal atau ajudan yang menemani Kolot Lembur jika bepergian dinas, juga ada seorang Pujangga yang bertugas memainkan Kecapi Buhun sembari berpantun.

Sistem religi masyarakat Kampung Adat Ciptagelar adalah kepercayaan Sunda kuno yakni yang bersinkretis antara agama Hindhu dan Islam.Hal ini terutama terlihat pada saat upacara-upacara adat yang mereka selenggarakan. Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar memiliki beberapa rangkaian ritual yang lebih banyak berkaitan dengan proses pertanian, yakni daur hidup padi dari mulia menanam hingga panen dalam alam kepercayaan masyarakat, di antaranya adalah:

  • Ngaseuk, yakni menanam padi yang didahului dengan upacara memohon keselamatan dan kemanandan berziarah ke pemakaman leluhur;
  • Sapang Jadian Pare, satu minggu setelah penanaman padi diadakan ritual untuk meminta restu kepada sang ibu yang mana representasi dari bumi, untuk ditanami. Diiringi dengan memohon restu leluhur dan Sang Pencipta agar padi tumbuh dengan baik;
  • Pare Nyiram, Mapag Pare Beukah, saat padi keluar bunga, mereka melakukan ritual yang bertujuan untuk memohon padi agar tumbuh dengan baik dan terhindar dari hama;
  • Sawenan, ritual yang diselenggarakan setelah bulir padi mulai keluar;
  • Mipit Pare, ritual yang digelar saat akan memotong padi, tujuannya untuk meminta izin kepada leluhur dan juga agar diberikan hasil panen yang melimpah;
  • Nganyaran atau Ngabukti, ritual saat padi ditumbuk dan dimasak untuk pertama kali;
  • Ponggokan, tradisi berkumpul para Sesepuh untuk membahas masalah kependudukan berdasarkan pajak masing-masing orang. Tradisi berkumpul ini biasanya dilakukan seminggu sebelum ritual Seren Taun dan tentang penyelenggaraan Seren Taun akan dibahas pada kesempatan ini;
  • Seren Taun, merupakan puncak acara dalam daur hidup padi. Acara ini digelar setiap tahunnya sebagai bagian dari tradisi menghormati para leluhur dan Dewi Sang Hyang Pohaci atau Dewi Sri. Acara ini digelar dengan berbagai bentuk kesenian. Yang utama adalah padi dibawa dengan diarak untuk kemudian disimpan di lumbung-lumbung, salah satunya di lumbung komunal.

 

Selain upacara yang terkait dengan pertanian, ada juga upacara lain yang dilakukan oleh masyarakat kampung adat ini, di antaranya adalah:

  • Selamatan, dilaksanakan pada tanggal 14 bulan purnama;
  • Nyawen, dilaksanakan pada bulan sapar dengan ritual pemasangan jimat kampung;
  • Beberes, upacara untuk menghindarkan masalah karena pelanggaran;
  • Sedekah Maulud dan Rewah, ritual saling mengirim makanan.

Terdapat tiga jalur utama menuju Kampung Adat Ciptagelar.Jalur pertama merupakan jalur dengan visualisasi paling indah, yakni jalur sepanjang 28 km dari Pelabuhan Ratu menuju Sukawayana.Jalur yang membelah hutan sepanjang 9 km ini dibangun hanya dalam waktu tiga hari.Tiap warga mendapat jatah pembangunan 1 m jalan dengan satu cangkul. Jalur kedua menuju kampung adat ini adalah melewati Kampung Sirnaresmi sejauh 12,6 km. Yang terakhir adalah jalur ketiga, yakni jalur terpanjang namun kondisi jalannya sudah beraspal, melewati Cicadas-Cikadu-Gunung Bongkok di wilayah Kabupaten Lebak.

Ada tempat baru di Sungai Jingkem Kabupaten Bekasi

By | Berita | No Comments

Foto by instagram/@sakaraw

Ada tempat baru di Sungai Jingkem Kabupaten Bekasi

Kabupaten Bekasi – Bupati Kabupaten Bekasi Eka Supriatmaja telah membuka Saung Usaha Untuk Pedagang di Sungai Jingkem, Saung tersebut dibantu oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bekasi sebagai wujud nyata Baznas Kabupaten Bekasi membantu masyarakat Kabupaten Bekasi.

Bupati Kabupaten Bekasi sangat senang karena wisata di Kabupaten Bekasi didukung dari berbagai pihak, Dalam sambutan nya bupati bekasi berujar “Dinas Pendidikan sudah kita perintahkan untuk wisuda sekolahnya di Kabupaten Bekasi aja agar anak-anak kita mengenal Bekasi, jangan sampai orang Cikarang bingung dimana sih sungai jingkem. Nanti akan kita bantu mempromosikan melalui dinas pariwisata.” ujar eka dalam sambutan pembukaan di saung usaha untuk pedagang di sungai jingkem.

Perlu diketahui juga Sungai Jingkem menjadi salah satu daya tarik wisata yang berada di Kabupaten Bekasi dan berlokasi di Desa Samudera Jaya, Destinasi ini juga menawarkan pengalaman berbeda dengan disuguhkan aneka macam mangrove di sepanjang sungai. Destinasi yang berada di pinggir laut ini menjadi salah satu penghasilan masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar berharap sungai jingkem dapat menjadi pemasukan utama. jika kalian ingin masuk ke sungai jingkem, ada beberapa macam spot selfie, diantaranya jembatan yang berbentuk love dan juga jembatn penyebrangan antar Dermaga. 

Untuk menuju ke sungai jingkem wisatawan bisa menaiki perahu melalui Jembatan Cinta yang berada di Taruma Jaya. Dengan merogoh kocek yang tidak terlalu dalam, bisa menuju ke sungai jingkem.

Yuk Ikuti Lomba Rayakan Kemerdekaan, Menangkan Total Hadiah 1 Milyar

By | Event, Nasional | No Comments

Jakarta, 6 Agustus 2020 – Pemerintah mengajak seluruh masyarakat Indonesia memaknai HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan semangat kreativitas dan suka cita tanpa melupakan makna kemerdekaan dan patriotisme untuk sama-sama optimistis bangkit dari pandemi COVID-19.

Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Sekretaris Utama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani dalam jumpa pers “Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia”, Kamis (6/8/2020) mengatakan, walaupun saat ini Indonesia berada dalam situasi keterbatasan akibat pandemi COVID-19, namun tidak mengurangi makna peringatan HUT ke-75 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2020.

“Kita tidak bisa menghindari kondisi seperti sekarang ini akibat pandemi COVID-19, jadi kita harus bisa beradaptasi dengan situasi ini dan tetap kreatif,” kata Giri Adnyani.

Turut hadir dalam konferensi pers tersebut Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono, Sekretaris Jenderal Kemenkominfo Rosarita Niken Widiastuti, dan Sekretaris Menteri BUMN Susyanto.

Giri mengatakan, Kemenparekraf menyiapkan lomba merayakan kemerdekaan dengan mengangkat tema “Cinta Indonesia”. Dalam lomba ini masyarakat diajak untuk menuangkan kreativitasnya dengan membuat video berdurasi 3 menit yang mencerminkan “Kerja Bersama Kita Bangkit”.

Konsep video merayakan/memeriahkan HUT ke-75 Tahun Kemerdekaan RI ini diisi dengan upaya mempercantik lingkungan dan tetap menjaga protokol kesehatan. Serta menunjukkan rasa cinta Indonesia dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya dengan berdiri tegap sikap sempurna, saat dikumandangkan lagu Indonesia Raya secara serentak pada 17 Agustus pukul 10.17 WIB.

“Pendaftaran telah dibuka dan peserta dapat memulai mengirimkan karyanya pada 17 Agustus malam, karena sikap sempurna dan penghormatan bendera harus diambil tepat pada tanggal 17 Agustus 2020 pukul 10.17 WIB,” kata Ni Wayan Giri Adnyani.

Kemenparekraf/Baparekraf menyiapkan hadiah total sebesar Rp 1 miliar serta satu trophy, Piala Presiden. Untuk keterangan lebih lanjut dapat dilihat di website hutri75.kemenparekraf.go.id.

Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Setya Utama menjelaskan, jauh hari sebelum pandemi, pemerintah telah menyiapkan acara peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI yang lebih besar dari biasanya. Namun situasi saat ini tidak bisa ditolak sehingga acara disesuaikan dengan lebih banyak menggelar event secara daring yang dibarengi dengan gelaran kreatif.

“Tema kemerdekaan tahun ini adalah ‘Indonesia Maju’. Jadi kita berharap di 75 tahun kemerdekaan ini, Indonesia menjadi negara maju dari segi ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain. Dan itu tergambar dari peringatan ini,” kata Setya Utama.

Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono menjelaskan, rangkaian peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI akan tetap dilaksanakan mulai dari pidato kenegaraan, pelantikan anggota Paskibra nasional, hingga penaikan dan penurunan bendera Merah Putih dari Istana Merdeka. Juga peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan, namun dalam format yang sedikit berbeda dengan pembatasan jumlah orang.

Kesemuanya dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan ketat dan akan disiarkan secara daring agar dapat disaksikan seluruh masyarakat Indonesia di dalam dan luar negeri. Termasuk detik-detik proklamasi dimana masyarakat diajak untuk mengambil sikap sempurna pada pukul 10.17 WIB pada 17 Agustus 2020 dan melakukan penghormatan bendera.

“Pemerintah provinsi, kabupaten/kota dapat memanfaatkan fasilitas yang dimiliki untuk membunyikan sirine sebagai tanda memasuki waktu tersebut. Sehingga masyarakat diharapkan bersama-sama dapat mengikuti momen tersebut,” kata Heru Budi.

Sebelum dan sesudah penaikan dan bendera nantinya juga akan diisi dengan berbagai acara hiburan untuk memberikan kemeriahan.

” juga akan ada acara khusus yang disiarkan langsung dari Istana Merdeka yang dapat dinantikan seluruh masyarakat Indonesia,” kata Heru.

HardFest Pesona Jati Gede Kembali di gelar

By | Event | No Comments
HardFest Pesona Jatigede 2020 yang akan digelar pada 12-13 Juni 2020 acara yang sudah dilaksanakan 3 kali ini telah cukup mendatangkan wisatawan. even yang mengambil tempat di Kawasan Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat diprediksi berlangsung lebih meriah dan seru. Beragam potensi Sumedang akan disajikan masif sebagai daya tarik utama pariwisata. Destinasi berjuluk Kota Tahu ini memiliki alam dan budaya eksotis. Evennya beragam dengan skala internasional. Selain atraksi, aksesibilitas dan amenitasnya bagus. Kota Tahu juga ditopang industri ekonomi kreatif kompetitif dari lini kuliner, ukiran kayu/meubel, sepatu rajutan, bahkan senapan angin. “HardFest Pesona Jatigede 2020 pasti akan digelar lebih meriah. Semua kekayaan dan potensi pariwisata Sumedang akan ditampilkan. Sebab, posisinya sangat strategis sebagai penegasan betapa potensialnya beragam produk pariwisata dan ekonomi kreatif di sini. Bagaimana pun, kami terus mendorong Kawasan Waduk Jatigede sebagai KEK Pariwisata,” ungkap Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, Jumat (14/2).
Sebelumnya taukah kamu apa itu Waduk Jatigede? Waduk Jatigede merupakan sebuah waduk yang terletak di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Pembangunan Waduk Jatigede ini telah lama direncanakan. Bahkan mungkin di luar dugaan, rencana pembuatan waduh ini telah ada sejak zaman Hindia Belanda. Waduk ini mulai dibangun pada 2008 di masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono dan baru diresmikan pada tahun 2015 serta beroperasi penuh pada 2017. Waduk ini dibangun dengan membendung aliran Sungai Cimanuk di wilayah Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedangdengan dengan kapasitas tampung 979,5 juta meter kubik air.  Sebagaimana waduk lainnya, Waduk Jatigede pun memiliki fungsi utama untuk sarana irigasi dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).  Selain itu, Waduk Jatigede juga berfungsi sebagai sarana budidaya perikanan air tawar, sarana olahraga air, sarana rekreasi, dan lain sebagainya. Waduk Jatigede difungsikan sebagai pusat pengairan untuk 90.000 hektar lahan pertanian produktif di Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Majalengka.  Selain itu, air yang berasal dari Waduk Jatigede juga dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Waduk ini juga akan memasok air bersih bagi warga sekitarnya dengan kapasitas hingga 3.500 meter kubik per detik.  Selain itu, waduk ini juga akan meredam terjadinya banjir bagi 14.000 hektar kawasan di Jawa barat.  Selain memiliki manfaat teknis, Waduk Jatigede juga menawarkan keindahan alam yang ‘tak sengaja’ terbentuk akibat proses penggenangan. Puncak-puncak bukit yang berada di area genangan berpadu dengan hamparan air yang merefleksikan birunya warna langit menciptakan panorama yang memanjakan mata.  Memanfaatkan keindahan yang tersedia tersebut, masyarakat di sekitar sana menjadikan lokasi tersebut sebagai kawasan wisata alam.  Watuk Jatigede sebagai waduk kedua terbesar di Indonesia, memang dikenal sebagai salah satu tempat wisata yang harus dikunjungi bila sedang berlibur ke Sumedang.