PesonaRarajahWayang

By November 9, 2019Event

PesonaRarajahWayang

Sejak ditetapkan dalam daftar Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003, Wayang resmi menjadi warisan budaya yang diakui dunia.  Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan tanggal 7 November sebagai Hari Wayang.  Penetapan Hari Wayang merupakan bagian dari upaya transformasi nilai-nilai luhur kehidupan yang tersirat dalam seni pewayangan.  Oleh karena itu, Hari Wayang tidak boleh dimaknai secara seremonial di panggung megah saja.  Tetapi bisa juga dinikmati oleh kalangan masyarakat umum.

Dede Ridwan selaku Ketua Komunitas Natar Budaya Wayang Ajen Subang, melihat bahwa Wayang yang telah ditetapkan oleh UNESCO itu sebagai aset budaya Indonesia.  “Ruhnya harus terus hidup mengakar di masyarakat. Maka pada tanggal 9 November 2019 kami bermaksud menggelar peringatan Hari Wayang Dunia yang bertajuk “Ngarajah Wayang” di Saung Sawah Wayang Ajen Sukamelang Subang Jawa Barat mulai pukul 12.10 – 22.30 WIB,” papar Dede Ridwan, Kamis (7/11).  Kegiatannya akan diisi oleh berbagai aktivitas yang menghubungkan masyarakat dengan Wayang.

Seperti Workshop Wayang untuk pelajar Sekolah Dasar, Gemar Wayang. “Kegiatannya berupa aktivitas generasi muda berdialog dan memainkan wayang golek ditemani Dalang Cilik Aming Ajen dari Pandeglang dan Dalang Bubun Subandara Ajen dari Karawang,” ujar Dede didampingi Deden Ndog selaku wakil ketua. Nanu Munajar selaku praktisi seni pertunjukan rakyat Jawa Barat sekaligus Dosen pengajar seni di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung menuturkan, acara digelar dengan nuansa alami dengan konsep pemaduan seni di alam terbuka karena kegiatan ini juga bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Makanya disajikan juga seni musik religi, pusi Sufi dan Tausiah. Dilanjutkan bertukar tangkap gagasan mengenai Wayang dalam bentuk diskusi terbuka, atau Ngadu Bako. Selain itu akan disajikan pula Show Case Wayang Laptop oleh ananda Widodo Jayakusumah dari SMK Kesenian Subang.  Lalu ditutup oleh pagelaran Wayang Kreasi berupa Wayang Catur oleh Mang Ayi Maestro Pantun Subang.  Hadir pula Komunitas Natar Budaya Wayang Ajen (NBWGA) Priangan Timur dibawah asuhan Ki Dalang Atep Ajen. Mereka akan menampilkan helaran kostum karakter dan wayang.

Helaran wayang lahir dari proses kreatif budaya dengan bertema dasar motif wayang dan kujang, sebagai maha karya budaya peninggalan sejarah Tatar Pasundan, yang dikolaborasikan dengan tema pewayangan, khususnya wayang ajen. Jadi, semua motif ornamen fashionnya berbentuk dasar kujang pasundan dan wayang, ujar Atep.  “NBWGA”, Priangan Timur adalah sebuah komunitas dan wadah kreatif yang diprakarsai oleh orang-orang yang peduli terhadap seni tradisi dan ruang kreatif di Priangan Timur, dengan tujuan untuk menggairahkan semangat dan animo masyarakat dalam rangka  mencintai, melestarikan, serta mengembangkan seni budaya, khususnya Wayang Ajen.  Helaran menampilkan kostum karakter Kujang Wayang Satria, Kujang Batik wayang, Kujang Gatotkaca, Taméng & Tombak wayang, dan kostum Gunungan Wayang Ajen.  Ngarajah wayang akan dilaksanakan di Saung Sawah Wayang Ajen Sukamelang Subang, Jawa Barat. Nuansa religi akan dibalut dalam sajian pertunjukan Rajah ngaruat Murwakala oleh Bah Nanu Munajar dan Enjang.

Berbarengan juga dengan peresmian Komunitas Natar Budaya Wayang Ajen Subang oleh Ki Dalang Wawan Ajen yang merupakan CEO Wayang Ajen Production.  Menurut ketua pelaksana kegiatan Asep Kusmana, acara ini digagas Ki Dalang Wawan Ajen.  “Kami mengembangkan ide-ide kreatifnya dengan mengajak komunitas dan masyarakat untuk merespon momentum hari wayang dunia ini.  Besar harapan kami dari Komunitas Natar Budaya Wayang Ajen Subang kegiatan ini tidak hanya mampu mempertahankan Wayang sebagai kekayaan budaya Indonesia semata melainkan lebih jauh bisa memberikan dampak ekonomi secara signifikan pada masyarakat sekitar,” paparnya.  Asep Kusmana menambahkan, harapannya Sukamelang Subang bisa menjadi salah satu Destinasi unggulan Jawa Barat. Khususnya dalam hal inkubasi dan pengembangan Wayang inovatif.

Sekaligus atraktif menarik wisatawan domestik dan luar negeri.  Deputi Bidang Pengembangan  Destinasi Pariwisata Kemenparekraf Dadang Rizki Ratman lalu menerangkan, potensi Sukamelang memiliki banyak potensi yang bisa diangkat saat Peringatan Hari Wayang Dunia. “Subang memang destinasi yang menarik. Ada banyak atraksi yang bisa dinikmati di sana. Fasilitas penunjangnya juga lengkap dan bagus. Kawasan ini semakin terkenal dengan Peringatan Hari Wayang Dunia. Apalagi, wayang terus mendapatkan pengakuan dan tempat di dunia,” terang Dadang.  Asisten Deputi Destinasi Regional II Kemenparekraf Wawan Gunawan menjelaskan, potensi besar dari wayang akan terus digali, ekplorasi ide-ide dalam wayang akan disualisasikan dalam bentuk aksi di masyarakat.

PesonaRarajahWayang

Saung Wayang Ajen Sukamelang Subang Jawa Barat kedepannya akan dijadikan destinasi wisata wayang dunia ini.  “Peringatan Hari Wayang Dunia 2019 akan memberi impact positif bagi Sukamelang dan Subang.  Ada value promosi dengan ujung potensi besar secara ekonomi yang bisa dinikmati masyarakatnya.  Terlepas dari itu, event ini bagus bagi pemahaman publik. Potensinya terus digali sehingga memberi manfaat termasuk konservasi,” jelas Wawan.  Ratusan wayang dibawa oleh 108 orang saat acara peringatan hari wayang sedunia. Wayang-wayang itu dikirab dari Museum Wayang, Pondok Tingal, menuju Pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Peserta kirab kemudian melakukan doa bersama di  Pelataran Candi Borobudur.  Acara yang dikemas dalam laku (berjalan) sambil membawa wayang kulit dan wayang kardus. Peserta kirab ini ada yang anak-anak, remaja dan orang tua

Dalam laku wayang ini, para peserta terlihat sangat antusias sekali saat berarak-arakan dari Pondok Tingal hingga pelataran candi.  Sesampainya di Pelataran Candi Borobudur, mereka kemudian berdoa bersama. “Ini adalah hari dan bulan bakti wayang. Kami mengadakan sebuah festival yang bertajuk World Wayang Way yang artinya bahwa festival ini, menurut saya akan berjalan lama sekali karena wayang sebagai jalan hidup,” kata Eko Sunyoto, salah satu panitia World Wayang Way saat ditemui di Pelataran Candi Borobudur, Kamis (7/11/2019).  Menurutny kegiatan tersebut dilakukan dengan meditasi wayang yakni berjalan dengan hening dari Poondok Tingal hingga candi.  “Kami melakukan sebuah meditasi wayang, kami dari Museum Wayang Pondok Tingal menuju ke Pelataran Candi Borobudur.

Kami bermeditasi dengan perjalanan hening, henung dan heneng. Inilah sebenarnya, bagaimana cara kita memasyarakatkan wayang. Jadi, sekarang anak-anak milenial itu adalah experience, jadi pengalaman, bagaimana mereka memegang wayang, bagaimana mereka merasakan menjadi dalang,” ujar Eko. “Jadi merekapun siap menjadi dalang bagi diri pribadi mereka. Jadi, ini namanya meditasi, meditation work, mereka berjalan menggunakan wayang dan mereka juga menjadi dalang untuk mereka sendiri,” katanya.  Saat disinggung laku wayang tersebut menuju Candi Borobudur, kata Eko, Candi Borobudur merupakan salah satu ibunya wayang.  Hal ini karena sebenarnya wayang tersebut telah digambarkan di Candi Borobudur dalam kehidupan sehari-hari. “Kami melakukan di Borobudur, salah satunya karena ini merupakan ibunya wayang.  Karena sebenarnya wayang telah digambarkan disini dalam bentuk kehidupan sehari-hari sebagai suatu keutamaan leluhur yang dipatahkan pada reliefnya.

Sebenarnya itu sama juga ketika melihat wayang beber. Sama beberannya, cuma beber di kertas atau di kain, kalau ini dibeberkannya di relief,” tutur Eko.  Salah satu peserta, Ica Puja Lera Lestari (9), mengaku, senang ikut dalam kirab wayang. Sebelumnya juga pernah ikut dan ini kali keduanya mengikuti kirab wayang.  “Saya senang aja bisa ikut kirab. Saya sering lihat wayang dan tokoh yang disenangi nakula sadewa,” ujarnya.

admin

Author admin

More posts by admin

Leave a Reply