Semarak Asia Afrika Carnival

By April 29, 2018Tips

Hari ini, Sabtu 28/4, Kota Bandung dipastikan bakal meriah. Pasalnya, akan ada puncak peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-62, digelar di Jalan Asia Afrika dan sekitarnya. Gelaran kegiatan ini akan dibuka dengan acara Asia Africa Carnival di sepanjang Jalan Asia Afrika pada 28 April 2018. Karnaval ini akan dimeriahkan oleh 2.867 peserta. Peserta karnaval tidak hanya berasal dari Kota Bandung, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara. Karnaval tersebut menggunakan rute dengan titik awal di Jalan Asia Afrika, Jalan Cikapundung Barat, Jalan ABC, Jalan Naripan, Jalan Tamblong, dan ‎berakhir di Jalan Asia Afrika.

Sejumlah jalan akan ditutup, yaitu Jalan Tamblong hingga Jalan Asia Afrika, Jalan Naripan hingga Tamblong, dan Jalan Banceuy hingga Jalan ABC. Pengalihan kendaraan agar tidak terjebak kemacetan pun akan diberlakukan. Pengalihan dari Jalan Lengkong Besar hingga Jalan Dalam Kaum, dan seterusnya. Kemudian pengalihan ke Jalan Lembong hingga Jalan Dalam Kaum, lalu Jalan Banceuy hingga Jalan Suniaraja, dan seterusnya. Skema penutupan dan pengalihan lalu lintas itu diberlakukan sejak pukul 06.00 hingga pukul 23.00 WIB. Ribuan orang dipastikan turut memeriahkan gelaran ini. Masyarakat diimbau untuk menghindari jalan-jalan yang dekat dengan rute karnaval dan mengikuti pengalihan arus dengan arahan petugas dari kepolisian. Panitia telah menyiapkan kantung-kantung parkir di beberapa titik, seperti di Jalan ABC, Jalan Banceuy, Basemen Alun-alun Bandung, dan Jalan Belakang Factory.

Dari titik-titik tersebut, para pengunjung bisa berjalan kaki menikmati kemeriahan puncak Asia Africa Week 2018. Kepala Bagian Humas Setda Kota Bandung Yayan A Brillyana mengatakan, acara ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Bandung menggelorakan semangat Konferensi Asia Afrika. Semangat persatuan, kemerdekaan, dan perdamaian yang ingin terus digelorakan ke seluruh penjuru dunia, akan terpancar dari perayaan ini. Even ini menguatkan posisi Kota Bandung sebagai ibu kota Asia Afrika.

Bandung adalah kota dunia yang menyimpan sejarah yang amat penting. Karena konferensi itu, puluhan negara di Asia dan Afrika terinspirasi untuk memperjuangkan kemerdekaan mereka. Kegiatan karnaval sendiri akan mengambil rute dimulai dari Jalan Asia Afrika – Cikapundung Barat – ABC – Naripan – Tamblong, dan berakhir kembali di Jalan Asia Afrika. Parade aan Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada tahun 1955; peristiwa bersejarah yang menjadi inspirasi acara. Parade akan dibuka oleh Tari Jaipong yang melambangkan penyambutan dari warga Bandung dan Jawa Barat, lalu dilanjut marching band dari Jabar Drum Corps yang pernah meraih juara dunia di Malaysia. Parade akan dibuka oleh Tari Jaipong yang melambangkan penyambutan dari warga Bandung dan Jawa Barat, lalu dilanjut marching band dari Jabar Drum Corps yang pernah meraih juara dunia di Malaysia. Parade akan dipimpin oleh rombongan Detasemen Kavaleri Berkuda, kemudian disusul oleh delegasi-delegasi dari berbagai negara.

Setelah rombongan Korea Culture Centre, parade mancanegara dilanjutkan dengan rombongan dari 14 negara lainnya, termasuk Inggris, Australia, India, Italia, dan Jepang. Juga ada perwakilan dari negara Madagaskar, Tajikistan, Azerbaizan, dan Kuwait, sebelum disambung dengan rombongan dari provinsi dan kabupaten-kota di Indonesia. Delegasi Kab Pidie Jaya dari Nangroe Aceh Darussalam menjadi rombongan pertama dari dalam negeri disusul Kab Sragen, Kota Pekalongan, Jambi, Banjarmasin, dan provinsi Kalimantan Timur. Setelah keseruan rombongan dalam negeri, parade  berlanjut ke rombongan Bandung, dimulai dengan perguruan silat Sabuk Putih. Diikuti oleh berbagai komunitas, sekolah, dan kampus di Bandung, seperti komunitas mahasiswa Lampung di Bandung dan paguyuban sepeda baheula.  Juga turut berparade Himpunan Peternak Domba Kambing DPC Bandung dan Unit Kesenian Bali Maha Gotra Ganesha / Institut Teknologi Bandung.

 

 

Beraneka ragam sekali peserta  dan akan membuat suasana sangat meriah. Keseruan ini akan dibuka oleh Eshty Reko Astuti mewakili Kemenpar. Karnaval Asia Afrika adalah acara satu hari yang akan menampilkan parade kostum terbaik dari negara-negara di Asia dan Afrika. Festival ini bertujuan untuk memperingati konferensi negara-negara di Asia dan Afrika dengan tujuan mempromosikan kerja sama ekonomi dan kebudayaan Asia Afrika melawan kolonialisme atau neokonolialisme. Even ini sekaligus menjadi momentum untuk mempromosikan dan merayakan Indonesia ke seluruh dunia dan dipandu oleh Pesona Indonesia, Kementerian Pariwisata, dan Pemerintahan Kota Bandung. Sebagai tuan rumah penyelenggara Konferensi Asia-Afrika 63 tahun yang lalu, semangat perdamaian dunia masih terus dikenang di Kota Bandung, yang dijuluki “Ibukota Asia-Afrika”. Bagaimana tidak? Dalam kondisi negara yang baru saja 10 tahun merdeka, Bandung dan Indonesia telah berhasil menyelenggarakan konferensi tingkat dunia guna memerdekakan negara-negara yang ada di benua Asia dan Afrika.

Pada tahun 1955 bukanlah hal yang mudah untuk menyelenggarakan konferensi sebesar itu. Terlebih, kekuatan Blok Barat dan Blok Timur tak bisa dibandingkan dengan kekuatan negara-negara Non-blok.

Akan tetapi, guna mencapai cita-cita bangsa pada Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “oleh karena itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan…” pemerintah dan masyarakat bergotong royong mensukseskan Konferensi Asia-Afrika.

 Soekarno pernah memberikan wejangan, “Kalau Barong Liong Sai dari Tiongkok bekerja sama dengan Lembu Nandi dari India, Spinx dari Mesir, Burung Merak dari Birma, Gajah Putih dari Siam, Ular Hidra dari Vietnam, Harimau dari Filipina, dan Banteng dari Indonesia, maka pasti hancur-lebur kolonialisme internasionalisme”. Wejangan tersebut kemudian digaungkan dalam rapat-rapat umum, sehingga semangat perdamaian dunia di Indonesia telah tercipta puluhan tahun yang lalu sebelum Indonesia merdeka. Kota Bierville, Prancis, dan Kota Brussel, Belgia, menjadi saksi saat mahasiswa-mahasiswa Indonesia ikut memainkan peranan dalam membangkitkan jiwa solidaritas Asia-Afrika pada 1926-1927.

Gagasan untuk menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika pertama kali dicetuskan pada saat berlangsungnya Konferensi Kolombo. Pada saat itu, 5 negara pencetus memberikan tanggapan bahwa diperlukan lebih banyak negara non-blok untuk mencapai cita-cita kemerdekaan dunia. Akhirnya, ditentukanlah pelaksanaan Konferensi Bogor sebagai pertemuan awal dalam mempersiapkan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika. Lima negara Konferensi Kolombo akhirnya bertemu kembali di Konferensi Bogor. Indonesia diwakili Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo, Burma diwakili U Nu, India diwakili Jawaharlal Nehru, Sri Lanka diwakili Sir John Kotelawala, dan Pakistan diwakili Muhammad Ali. Perwakilan dari lima negara itu kemudian bersidang di Istana Bogor bersama Ir. Soekarno dalam mempersiapkan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika. 

Banyak ketegangan yang terjadi di Konferensi Bogor, di antaranya saat memutuskan untuk mengundang Tiongkok, namun negara anggota Konferensi Bogor berempati pada negara-negara di Timur Tengah.  PM Ali Sastroamidjoyo yang menjadi penengah ketegangan itu Belum lagi, perseteruan antarnegara yang masih menunjukkan ego dan kebangsaannya, mengingat hampir seluruh negara peserta masih terhitung muda dalam usia kemerdekaan.  Setelah Konferensi Bogor, dibentuklah Panitia Lokal pelaksana Kongerensi Asia-Afrika di Bandung. Merekalah yang menyiapkan akomodasi, jadwal kegiatan, dll sesuai kebutuhan konferensi. Gedung Concordia yang merupakan pusat kebudayaan bagi para kaum elite Hindia Belanda, diubah menjadi Gedung Merdeka. Jalan sepanjang Concordia dari Masjid Raya Bandung sampai Simpang Lima diubah menjadi “Asia-Afrika”. Masyarakat dilibatkan dalam persiapan akomodasi.  Tak sedikit pribumi elite yang merelakan kendaraannya untuk menjadi transportasi bagi para delegasi KAA. Puluhan ton bahan bakar disiapkan demi kelangsungan acara.  Bahkan beberapa daerah di Bandung, listriknya dipadamkan hanya untuk penerangan di Jalan Asia-Afrika dan sekitarnya.  Banyak halangan yang terjadi sebelum pelaksanaan konferensi. Saat konferensi pun, tak luput dari masalah yang tiba-tiba terjadi seperti Gedung Merdeka kebanjiran saat hujan lebat. Namun, melalui semangat kebersamaan Bandung, konferensi dapat berjalan dengan lancar sampai acara penutupan yang dilaksanakan bersamaan dengan hari pertama bulan Ramadhan.  Ir. Soekarno membukanya secara resmi dengan pidato kenegaraan, saat kalimat “Let This Conference be A Great Success” menjadi kalimat yang luar biasa dibanggakan oleh negara-negara peserta Konferensi Asia-Afrika.  Semangat Bandung kala itu tak dapat kita bayangkan lagi. Dalam kondisi negara yang baru saja merdeka, semua bergotong-royong demi kesuksesan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika. Selain itu, semangat untuk menggaungkan kemerdekaan negara-negara Asia-Afrika terbangun dari seluruh anggota konferensi.  Tahun demi tahun setelah tercetusnya Dasasila Bandung tersebut, negara-negara Asia-Afrika pun menemukan kemerdekaannya.

 

admin

Author admin

More posts by admin

Leave a Reply